All

Pertempuran Elon Musk vs Jeff Bezos Dalam Penaklukan Luar Angkasa

04 Mei, 2021

Elon Musk dan Jeff Bezos (Foto: Instagram @elonmusk dan @jeffbezos)

Uzone.id - Bahkan Bima Sakti tampaknya terlalu kecil untuk menjaga ego miliarder teknologi Jeff Bezos (57) dan Elon Musk (49) agar tidak bertabrakan saat mereka bersaing untuk menaklukan ruang angkasa.

Musk menulis twit baru-baru ini dengan mengatakan "tidak bisa naik (ke orbit)" sebagai tanggapan perusahaan luar angkasa Blue Origin, yang didirikan Jeff Bezos.

Bezos protes terhadap NASA yang memilih SpaceX milik Musk dalam membangun modul yang akan mendaratkan astronout AS berikutnya di bulan.

"Ini lebih sekadar pertempuran unturk ruang," kata analis Wedbush Daniel Ives. "Ada beberapa ego yang berperan juga; ini menjadi lebih pribadi."

BACA JUGA: Jika Harta Dibagi Dua, Bill Gates Jadi Orang Terkaya di Dunia Urutan 17

Bezos dan Musk telah menyalurkan sebagian dari kekayaan besar mereka ke perusahaan eksplorasi ruang angkasa swasta sejak awal abad 21.

Bezos adalah pendiri Blue Origin dan raksasa e-commerce Amazon. Forbes menempatkannya sebagai orang terkaya di dunia dengan harta sekitar USD202 miliar atau sekitar Rp2.912 triliun (kurs Rp14.420 per USD1).

Musk, pendiri Tesla dan SpaceX juga membuat perusahaan Neuralink yang menghubungkan otak manusia dengan komputer. Dia saat ini menjadi orang terkaya ketiga di dunia dengan harta USD173 miliar atau sekitar Rp2.495 triliun.

Perusahaan swasta kini menjadi bintang dalam proyek luar angkasa - alih-alih digarap pemerintah.

Proyek luar angkasa yang dikembangkan swasta, dan telah berkembang pesat termasuk menyebarkan jaringan satelit untuk layanan internet nirkabel dan pariwisata luar angkasa.

Sementara itu, SpaceX dan Blue Origin mendapat keuntungan dari para founder dengan sumber daya finansial yang cukup. Mereka bersaing untuk mendapatkan kontrak dengan militer AS atau badan antariksa.

Musk unggul atas Bezos

SpaceX telah mengerahkan ratusan satelit ke orbit, sementara jaringan satelit Kuiper tetap terikat di Bumi meskipun Bezos menjanjikan dukungan USD10 miliar.

Musk bahkan membentuk aliansi dengan Microsoft, yang merupakan pesaing terbesar Amazon di pasar komputasi awan, untuk menggunakan platform Azure dalam menyediakan layanan internet bertenaga satelit.

Microsoft mengatakan akan bekerja sama dengan SpaceX dalam kontrak pemerintah untuk membangun satelit sebagai bagian dari sistem pertahanan yang mampu mendeteksi dan melacak rudal balistik, jelajah, dan hipersonik.

Secara terpisah, Departemen Pertahanan AS pada 2020 telah memberikan kontrak komputasi awan "JEDI" senilai USD10 miliar atau sekitar Rp144 triliun kepada Microsoft, bukan Amazon.

NASA telah mengembangkan kepercayaan pada SpaceX, yang telah dipercaya untuk mengirim pasokan dan astronaut ke Stasiun Luar Angkasa Internasional, menurut spesialis luar angkasa Foundation for Strategic Research, Xavier Pasco.

Sebaliknya, Blue Origin tidak membuat "langkah penting" itu, kata Pasco.

Bezos mengumumkan awal tahun ini bahwa dirinya mengundurkan diri dari kepala eksekutif Amazon dan berencana menghabiskan lebih banyak waktu untuk proyek lain, termasuk Blue Origin.

Bezos telah mengutip visi futuristik dari mendiang fisikawan dan pendukung luar angkasa Gerard )'Neill, namun mengejek pembicaraan Musk tentang kolonisasi Mars.

Bezos telah menjelaskan bahwa menurutnya planet merah bukanlah tempat untuk rumah.

"Siapa yang ingin pindah ke Mars?" Bezos mengatakan itu di sebuah konferensi tahun 2019.

"Bantulah saya, hiduplah di puncak Gunung Everest selama setahun terlebih dahulu, dan lihat apakah kamu menyukainya - karena ini adalah taman surga dibandingkan Mars," sindir Bezos.

Persaingan Bezos dan Musk datang dengan taruhan finansial yang luar biasa.

Analis Ives memperkirakan bahwa "monetisasi" ruang angkasa akan segera diluncurkan, dengan triliunan dolar yang akan dihasilkan.

"Bezos dan Musk tahu bahwa pemenang pertempuran luar angkasa akan dimahkotai dalam satu atau dua tahun ke depan," kata Ives. (Khaleej Times)

VIDEOSmartwatch Ini Gak Sampe Sejuta, Cuma Menang Murah?